NEGARA DEMOKRATIS vs DOSEN OTORITER

Di nAdeegara yang katanya demokratis ini, dimana aspirasi dan kolaborasi seharusnya menjadi poin penting dalam kemajuan bernegara dan instansi pendidikan merupakan salah satu pilar terpenting demokrasi, nyatanya pola-pola otoriter paling masiv terjadi di dalam dunia pendidikan itu sendiri yang di khawatirkan secara tidak langsung akan melahirkan generasi otoriter di masa akan datang. Sebelum jauh kita membahas masiv nya pola otoriter di dunia pendidikan, mari kita pahami apa sebenarnya otoriter itu. Menurut KBBI otoriter yaitu berkuasa sendiri; sewenang-wenang. Secara konsep sesuatu hal yang bersifat memaksa baik secara halus maupun kasar, secara langsung maupun tidak langsung yang memiliki value “sewenang-wenang” itu bagian dari otoriter itu sendiri.

Nah! di dalam dunia pendidikan, secara struktural organisasi tidaklah banyak orang-orang yang menduduki posisi sebagai top leader maupun middle leader sehingga apabila ada leader yang menampilkan pola-pola kepemimpinan yang otoriter akan sangat mudah ter-identifikasi bahkan terekspos, hal ini di dukung pula oleh kemajuan teknologi informasi yang masiv dan menjadi pilar transparansi informasi. Satu hal di dunia pendidikan yang biasa dikenal dengan istilah “Expert Judgement” hal ini merupakan bagian dari wibawa profesionalisme keilmuan bagi para Ahli, Pakar dan Dosen khususnya di Perguruan Tinggi. Dimana expert judgement merupakan pendapat Ahli/Pakar/Dosen yang berfungsi mengarahkan mahasiswa untuk mampu meninjau segala sesuatu secara logis, rasional dan ilmiah, untuk bisa mencapai derajat independensi dalam mengambil keputusan dan juga berfungsi untuk mengarahkan kemandirian bagi mahasiswa itu sendiri agar si mahasiswa kelak di masa depan akan menjadi Iron Stock (generasi penerus) yang handal.

Fakta yang ada dan dalam prakteknya, tidak banyak dosen yang memahami esensi dari expert judgement itu sendiri. Sehingga dalam banyak prosesi yang melibatkan Dosen dan Mahasiswa, apakah itu proses bimbingan Kartu Rencana Studi, Kartu Hasil Studi, Bimbingan Laporan Pratikum dan bahkan sampai tahap bimbingan Skripsi maupun Tesis sering sekali Dosen itu sendiri lah yang menjadi pengambil keputusan yang secara “memaksa” Mahasiswa harus mengikuti intruksi dari Dosen tersebut bukan mala saran/masukan yang diberikan melainkan intruksi. Dalam beberapa hal mungkin hal tersebut dirasa perlu walaupun menciderai esensi pendidikan di era demokratis, dengan dalil bahwa “lakukan saja dulu, nanti kamu akan paham yang saya maksud” begitu tutur Dosen yang tidak ingin berlama-lama melakukan prosesi bimbingan.

Sebagai Mahasiswa, ketika argumentasi yang disampaikannya ”kurang logis, kurang rasional bahkan kurang ilmiah” maka haruslah mengikuti saran/masukan yang lebih logis, rasional dan ilmiah. Tetapi dalam prakteknya masih banyak dijumpai saran/masukan dari Dosen yang kurang logis, kurang rasional serta kurang ilmiah dan bahkan bernuansa sentimentil atau mengandung unsur-unsur tertentu yang sering dimaknai dengan hal-hal materil. Nuansa memaksa ini walau tampak seperti tidak memaksa kerap sekali menjadi penghalang yang berarti bagi Mahasiswa dalam studinya.

Seharusnya sebagai Expert Judgement, profesionalitas secara profesi maupun esensi haruslah menjadi pegangan utama, mendidik Mahasiswa agar independen dalam mengambil keputusan dan meningkatknya kemandirian Mahasiswa harusnya menjadi hal utama dengan saran/masukan yang logis, rasioanal dan ilmiah. Dosen seharusnya tidak lagi menjadikan expert judgement sebagai topeng nafsu pribadinya. Karena demi tercapainya tujuan pendidikan yang sebenarnya, kolaborasi antara Dosen dan Mahasiswa merupakan hal utama lainnya yang harus dipenuhi dalam prosesi pendidikan.

Jika pola yang kurang professional itu dilakukan secara beramai-ramai oleh banyak Dosen yang kurang professional serta masiv dilakukan bertahun-tahun, maka generasi seperti itu jugalah yang akan lahir dari rahim pendidikan kita. Hal ini tidak di sebabkan oleh lemahnya regulasi dan maupun sistem pendidikan kita, melainkan hal ini disebabkan oleh oknum-oknum yang menjadi parasit di pendidikan kita dan menjadikan “Expert Judgement” sebagai topeng nafsu pribadinya.

Seharusnya upaya kolaborasi yang sehat antara Dosen dan Mahasiswa guna mencapai esensi dari tujuan pendidikan adalah hal yang mutlak dilakukan tanpa bisa dinegoisasi. Dosen harus siap menerima argumentasi bahkan kritik dari mahasiswa asalkan hal itu logis, rasional dan ilmiah serta Mahasiswa juga harus mampu sebaliknya. Sehingga proses pendidikan yang ingin dan harus bahkan wajib mencapai tujuan esensi pendidikan itu sendiri menjadi proses yang sehat dan tidak menjelma menjadi hiruk pikuk berdebatan tanpa dasar rujukan yang jelas dan melemahkan instansi pendidikan yang seharusnya kaya akan pembuktian-pembuktian ilmiah serta empiris.

Di dalam Negara Demokratis ini seharusnya tidak ada lagi Dosen yang mengambil keputusan atas kuasa nya sendiri, melainkan harus melalui prosesi edukasi yang demokratis pula dengan argumentasi yang logis, rasional dan ilmiah serta kaya akan rujukan dan pembuktian ilmiah serta empiris. Bukanlah memaksa kan argumentasinya lalu meninggalkan mahasiswa untuk memikirkan argumentasi si Dosen itu sendiri karena si Dosen “malas” berlama-lama diskusi dan beradu argumentasi pada mahasiswa.

Dan akhirnya kita tidak perlu khawatir INDONESIA AKAN BUBAR 2030 seperti kabar yang sudah di viralkan hari-hari ini, kalau saja “EXPERT JUDGEMENT” komitmen dan konsisten menjadi aktor utama yang melahirkan pemimpin-pemimpin handal di masa depan. #Salut untuk para “EXPERT JUDGEMENT” yang selalu komitmen dan konsisten di jalan juang ini.

TUGAS POSTER HASIL SURVEI MATA KULIAH STATISTIK 1 DESKRIPTIF – KELAS C (STAMBUK 2017)

 

TUGAS POSTER HASIL SURVEI

MATA KULIAH STATISTIK 1 DESKRIPTIF – KELAS C (STAMBUK 2017)

Esensi sebuah karya adalah mampu memberikan manfaat dan hal itu harus di Apresiasi

TUGAS POSTER HASIL SURVEI MATA KULIAH STATISTIK 1 DESKRIPTIF – KELAS A (STAMBUK 2017)

TUGAS POSTER HASIL SURVEI

MATA KULIAH STATISTIK 1 DESKRIPTIF – KELAS A (STAMBUK 2017)

Esensi sebuah karya adalah mampu memberikan manfaat dan hal itu harus di Apresiasi